oleh

Guru Di NTT Ikuti Pelatihan Demokrasi

Dengan penerapan protokol covid 19 secara ketat, program Pelatihan Guru untuk Pendidikan Demokrasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) hari ini secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Kupang, Bapak Linus Lusi, M. Pd. Acara akan berlangsung dari tanggal 16-18 Juni, bertempat di Swiss-belinn Kristal.

Pelatihan Guru Untuk Pendidikan Demokrasi adalah program yang diselenggarakan oleh tiga pihak; Konrad Adenauer Stiftung, Paramadina Institute for Education Reform (PIER) Universitas Paramadina dan Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Program ini secara khusus menyasar para guru ilmu sosial, ilmu agama, dan ilmu humaniora pada umumnya.

Tujuan pelatihan sebagaimana diungkapkan oleh Djayadi Hanan, Direktur Eksekutif PIER Universitas Paramadina, adalah untuk melatih para guru agar mampu mengajarkan nilai demokrasi secara demokratis. Sehingga para siswa sebagai generasi muda yg menjadi sasaran tak langsung dari program ini dapat merasakan dan melihat praktik nilai demokrasi di sekolah melalui interaksinya engan para guru yang telah mengikuti pelatihan ini.

Baca Juga  Wagub Babel Siap Cegah Korupsi Terintegrasi

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dalam Sambutannya menyoroti aspek penting praktik demokrasi di sekolah yang perlu ditunjukkan para guru kepada para siswa, setidaknya mesti terwujud dalam empat hal. Pertama, senyum. Guru harus bisa mengajar dan berinteraksi dengan siswa secara baik, setidaknya hal ini harus terlihat dari senyum dan keramahan kepada siswa.

Baca Juga  PP 43/2021 Solusi Atasi Konflik di Kawasan Hutan

Kedua, cara berpakaian yang baik sesuai dengan nilai dan profesi ke-guruan. Sehingga dari cari berpakaian itu siswa bisa makin respek dan hormat, tidak terintimidasi atau berjarak. Ketiga, tidak merendahkan atau menghina siswa. Guru yang demokratis harus bersikap egaliter dan mampu menerima siswa dengan segala apa adanya baik kekurangan maupun kelebihannya.

Keempat cara menjawab pertanyaan para siswa. Agar guru makin bijak, tidak selalu menggurui dan memberikan apreasi kepada siswa yang bertanya. Keberanian bertanya adalah indikator penting bagi kesuksesan proses belajar yang terbuka dan demokratis.

Acara pembukaan pelatihan Guru untuk Pendidikan Demokrasi juga dihadiri oleh wakil dari Konrad Adenauer Stiftung, Ari Dharma Stauss. Dalam sambutanya, Ari banyak menjelaskan tentang Konrad Adenauer Stiftung (KAS) dan kiprahnya sebagai sebuah yayasan besar di Jerman yang peduli pada isu-isu Demokrasi dan HAM.

Baca Juga  Harkitnas 2021, Sekjen Kemenkumham: Optimistis Menghadapi Masa Depan

Ari juga menjelaskan bahwa program ini sepenuhnya dibiayai oleh KAS. Sementara itu dana yang dipakai oleh KAS untuk berbagai program dukungan pada demokrasi dan HAM di seluruh dunia adalah dana yang diperoleh dari pajak rakyat Jerman.

Acara diikuti oleh 20 peserta, dengan menerapkan social distancing. Biasanya satu kelas kuotanya untuk 30 peserta, namun mempertimbangkan aspek kesehatan, peserta dibatasi hanya untuk 20 orang. (*/red)

News Feed